Emisi Gas Rumah Kaca: Apa Pengaruhnya pada Kesehatan?

Gas rumah kaca merupakan beberapa jenis gas yang terperangkap dalam atmosfer bumi yang menyebabkan rumah kaca. Rumah kaca tersebut mampu meneruskan radiasi gelombang panjang matahari, tetapi menangkal radiasi inframerah dari permukaan bumi. Gas rumah kaca tersebut kemudian akan menimbulkan efek rumah kaca yang merupakan sebutan untuk semakin meningkatnya suhu udara dipermukaan bumi. Gas rumah kaca terbentuk secara alami dari lingkungan dan bisa juga terbentuk dari aktivitas manusia. Sebagian besar penyusun gas rumah kaca merupakan uap air dan karbon dioksida. Karbon dioksida merupakan gas alami yang bisa berasal dari pernapasan manusia dan hewan, letusan vulkanik, atau pembakaran material organk. Karbon dioksida sebenarnya bisa didaur ulang oleh tumbuhan berdaun hijau melalui proses fotosintesis yang kemudian akan diubah menjadi oksigen yang bisa dimanfaatkan kembali oleh manusia dan hewan. Jadi, karbon dioksida sebenarnya bukan gas yang berdampak buruk karena bisa diolah kembali oleh tumbuhan untuk dijadikan oksigen.

Akan tetapi, proses fotosistesis tumbuhan bisa jadi terganggu karena beberapa faktor, di antaranya berkurangnya tumbuhan hijau dan pemanasan global. Pemanasan global dan berkurangnya tumbuhan hijau membuat proses fotosintesis terganggu sehingga gas karbon dioksida tidak bisa didaur ulang secara maksimal oleh tumbuhan. Akibatnya, gas karbon dioksida yang sudah dilepaskan akan kembali memantul dan kemungkinan besar akan kembali terhirup oleh manusia yang disebut dengan efek rumah kaca. Efek rumah kaca tersebut memang dikenal berpengaruh pada lingkungan. Dan selain berpengaruh pada lingkungan, efek rumah kaca juga berpengaruh pada kesehatan manusia. Berikut diuraikan beberapa pengaruh emisi gas rumah kaca terhadap kesehatan manusia.

Perubahan Iklim

Gas rumah kaca yang terus terperangkap dan menumpuk di atmosfer bumi bisa menyebabkan perubahan iklim yang ekstrem. Perubahan iklim tersebut akan menyebabkan berubahnya suhu udara dan musim di luar prediksi. Perubahan iklim yang ekstrem membuat suhu udara mudah berubah sehingga bisa berpengaruh pada kesehatan manusia, khususnya bagi orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Beberapa orang akan mudah menderita dan tertular beberapa penyakit, di antaranya demam, flu, batuk, pilek, dan sebagainya. Suhu dan cahaya matahari yang terlalu terik juga bisa menyebabkan kerusakan beberapa organ tubuh karena pancaran terik matahari yang tercampur polusi udara bisa menyebabkan iritasi, di antaranya iritasi mata, iritasi kulit, dan iritasi organ pernapasan. Perubahan iklim yang menyebabkan meningkatnya curah hujan juga bisa mengakibatkan banjir bandang dan pencemaran lingkungan sehingga tubuh rawan terserang penyakit, seperti diare, disentri, dan sebagainya.

Berkurangnya Sumber Air

Karbon dioksida yang terus berada di atmosfer kurang lebih selama 50-200 tahun akan terus meningkatkan suhu permukaan bumi. Kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan terjadinya kekeringan yang mengakibatkan pasokan air besar menjadi berkurang. Air merupakan benda yang berharga untuk manusia karena dimanfaatkan untuk keperluan penting, di antaranya minum, memasak, mencuci, pembuangan saluran sanitasi, dan sebagainya. Berkurangnya sumber air menjadikan manusia kesulitan untuk mendapatkan pasokan air bersih sehingga usaha untuk menjaga kesehatan dan kebersihan juga turut terganggu.

Meningkatnya Polusi Udara

Emisi gas rumah kaca bisa menyebabkan kualitas udara menjadi buruk. Karbon dioksida yang terus terperangkap dalam atmosfer terus meningkat sehingga berpotensi dapat terhirup oleh manusia. Karbon dioksida yang kembali terhirup oleh manusia tentu bisa menyebabkan munculnya gangguan pada beberapa organ pernapasan. Organ pernapasan yang terganggu tersebut menyebabkan manusia mudah menderita beberapa penyakit, di antaranya batuk, flu, pilek, iritasi tenggorokan, radang paru-paru, bahkan berpotensi pula menyebabkan penyakit kronis yang lebih parah. Selain bisa merusak organ pernapasan, polusi udara juga bisa merusak kesehatan kulit. Kulit yang terpapar debu pada udara akan menyebabkan kulit menjadi kusam, muncul noda, kerutan, dan bergelambir.

Menurunkan Daya Tahan Tubuh

Emisi gas rumah kaca ternyata juga bisa menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh. Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim ekstrem, polusi udara, dan peningkatan suhu berpotensi menyebabkan sistem imunitas manusia menjadi melemah. Beberapa orang yang terus terpapar emisi gas rumah kaca, tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan baik sehingga rawan terserang penyakit. Polusi udara dan lingkungan yang tercemar juga kemungkinan bisa menyebabkan meningkatnya radikal bebas di lingkungan sekitar. Radikal bebas tersebut jika masuk ke dalam tubuh manusia bisa menyebabkan sistem imunitas melemah dan menyebabkan munculnya beberapa penyakit.

Itulah beberapa efek emisi gas rumah kaca terhadap kesehatan. Oleh karena itu, jaga dengan baik kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan istirahat cukup supaya daya tahan tubuh bisa bekerja dengan maksimal. Daya tahan tubuh yang bekerja maksimal membuat tubuh selalu fit dan sehat serta bisa terhindar dari serangan penyakit. Gas karbon dioksida yang terus terperangkap dalam atmosfer bumi lama-kelamaan bisa menyebabkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu, jaga perilaku supaya efek rumah kaca tidak terus meningkat demi masa depan yang sehat dan aman.

Baca juga:

Pengaruh Perubahan Iklim pada Kesehatan

Dampak Gelombang Panas pada Kesehatan

Pengaruh Pemanasan Global pada Kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *