Mitos Mengenai Makanan

Mitos # 1: Telur buruk bagi tubuh

Telur mendapat citra buruk yang tidak berdasar; penelitian terbaru menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak berkontribusi terhadap kolesterol tinggi. Faktanya, telur adalah sumber murah dari banyak nutrisi, termasuk zync dan zat besi, antioksidan lutein dan zeaxanthin, vitamin D, dan kolin, zat kimia peningkat otak.

Mitos # 2: Kopi menyebabkan dehidrasi

kopi (pxhere.com)

Kopi memang bersifat diuretik atau meningkatkan produksi urin, tapi kondis ini sangat ringan. Selain itu, kopi juga memiliki banyak cairan, sehingga dapat dihitung sebagai asupan cairan harian. Sehingga, tidak akan menyebabkan dehidrasi walaupun mengonsumsi dua atau tiga cangkir setiap harinya.

Mitos # 3: Gula alami berbeda dari gula tambahan

Gula adalah gula. Pada tingkat molekuler, gula dalam apel sama dengan gula yang Anda sendok ke dalam cangkir kopi Anda. Mungkin ada perbedaan dalam cara tubuh kita memecah gula ketika dikombinasikan dengan nutrisi lain seperti serat dan protein, tetapi secara alami tidak memecahnya. Gula dalam buah utuh hadir dengan serat dan membantu memperlambat pencernaan dan mencegah lonjakan gula darah.

Tetapi apabila buah dalam bentuk jus, sirup atau madu, tubuh akan bereaksi dengan cara yang sama seperti gula meja.

Mitos # 4: Makanan organik secara otomatis sehat.

Sesuatu yang berlabel “organik” mempunyai image bahwa hal tersebut baik untuk Anda. Padahal, makanan organik masih sama efeknya dengan yang biasa. Sirup dari buah organik, tetaplah sirup yang mengandung gula. Camilan organik juga tetap merupakan camilan. Mengonsumsi dalam jumlah terbatas tidak masalah, tapi dalam jumlah tinggi tetap akan menimbulkan risiko sendiri.

Mitos # 5: Margarin secara otomatis lebih baik daripada mentega

Mentega dan margarin memiliki jumlah kalori yang sama. Tetapi margarin, dibuat dari minyak nabati, diciptakan sebagai alternatif yang lebih menyehatkan dari mentega (yang mengandung kolesterol dan lemak jenuh), beberapa margarin sebenarnya tidak sehat karena mengandung lemak trans, yang bahkan memiliki efek lebih buruk pada kolesterol dan kesehatan jantung. Jika Anda memilih margarin, cari merek bebas lemak trans.

Mitos # 6: Salad selalu menjadi pilihan paling sehat di menu.

salad (pxhere.com)

Anda akan berpikir bahwa mengonsumsi salad itu aman. Tetapi semua topping yang ditumpuk di atas selada bisa membuat gula, lemak, dan kalori sama tingginya dengan burger lezat yang Anda coba hindari.  Untuk memastikan salad Anda sesehat mungkin, cari yang berdaun hijau, protein tanpa lemak (ayam goreng tidak masuk hitungan), sedikit porsi lemak sehat, dan saus berbahan dasar minyak di sampingnya. Minyak membantu Anda menyerap semua nutrisi yang larut dalam lemak yang dimakan.

Mitos # 7: Versi rendah lemak lebih baik daripada yang asli

Masihkah Anda memilih memilih makanan yang rendah lemak? Hal ini sebenarnya merugikan karena lemak merupakan hal yang dibutuhkan dalam diet.

Lemak tidak buruk. Lemak tidak langsung masuk ke pinggul. Setiap kalori ekstra yang dimakan yang tidak dapat digunakan tubuh dapat diubah menjadi lemak tubuh, bukan hanya lemak makanan. Lemak adalah kalori yang lebih padat, yang merupakan berkah sekaligus kutukan.

Mitos # 8: Kacang sama buruknya dengan junk food

Kacang-kacangan adalah sumber protein dan nutrisi lain yang sangat baik, asalkan Anda tetap makan secukupnya. Peneliti Harvard menemukan bahwa wanita yang makan jumlah itu sekitar lima kali seminggu memiliki risiko 20 persen lebih rendah untuk terkena diabetes tipe 2 daripada mereka yang tidak sering memakannya. Selain itu, beberapa penelitian besar telah menemukan bahwa asupan kacang secara teratur melindungi terhadap penyakit jantung.

Source: rd.com, self.com

Baca Juga:

Konsumsi Minuman Ini Untuk Kesehatan Tubuh

Pilih 12 Makanan Ini Sebagai Sarapan Sehat Anda

Tips Makan Sehat

Pilihan Snack Sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *